Romantika Proyek Seni Dalam Kerangka Ruang Seni Alternatif Sebuah Pengantar

Posted by ViaVia Jogja Travel

Share

Romantika Proyek Seni Dalam Kerangka Ruang Seni Alternatif Sebuah Pengantar

“Graffiti is one of the few tools you have if you have almost nothing. And even if you don’t come up with a picture to cure world poverty you can make someone smile while they’re having a piss.”
Banksy, Banging Your Head Against a Brick Wall

Mengapa kami melakukan proyek ini?

Ini adalah pertanyaan yang menghantui kami selama beberapa bulan terakhir, bahkan sejak proyek ini masih dalam tahap perencanaan. Sebuah pertanyaan wajar yang paling mendasar, namun penuh keraguan dan ketidakpastian, karena pertanyaan ini merupakan landasan yang akan memberikan arah pada keberlangsungan proyek ini seterusnya.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami harus menilik kembali beberapa pertimbangan.

Pertama, kami, ViaVia adalah ruang seni alternatif yang aktif duapuluh dua tahun terakhir. ViaVia tidak pernah mengikuti pasar, trend seni, maupun aliran seni apapun. ViaVia mempunyai kecenderungan dan praktik seni rupa yang asik sendiri terutama karena ViaVia merupakan ruang yang mandiri dan mempunyai publiknya sendiri. ViaVia mempunyai kebebasan sekaligus privilage dengan kemandiriannya ini. Namun demikian ViaVia kemudian mempunyai pekerjaan rumah yang berat yaitu bagaimana mengembangkan dirinya sendiri agar tidak terjebak pada pameran dan diskusi yang berulang. Apa lagi yang harus dilakukan Viavia untuk melampaui wilayah nyamannya, sekaligus berguna bagi masyarakat? Kenapa harus berguna? Karena kami percaya seni harus melampaui seni, seni adalah untuk masyarakat.

Kedua, jika membuat proyek seni kemudian menjadi pilihannya, seni apa yang akan dilakukan, di mana kami akan mengerjakan dan bagaimana menjalankannya?

Seni yang bekerja dengan kerangka proyek yaitu praktik seni yang dibuat dengan tujuan tertentu dan dirancang untuk berjalan dalam kurun waktu tertentu bukanlah hal yang baru. S. Sudjojono dan Afandi bersama Seniman Indonesia Muda (SIM) melakukan kolaborasi dengan penulis seperti Chairil Anwar dengan tujuan menjadikan seni sebagai alat perjuangan[i]. Mahasiswa Indonesia (termasuk mahasiswa pergurunan tinggi seni) mengenal kuliah kerja nyata, sebuah praktik intrakurikuler perkuliahan yang mengharuskan mahasiswa bekerja secara interaktif dan sinergis bersama masyarakat dengan tujuan menumbuhkan learning community dan learning society melalui pembelajaran bersama[ii]. ViaVia melakukan proyek seni ini juga mempunyai tujuan yang serupa, yakni melakukan praktik seni yang dapat berguna untuk masyarakat, yang kemudian mengerucut pada pilihan seni jalanan sebagai artikulasi dari praktik seni untuk masyarakat ini.

Seni jalanan sudah lama dikenal mampu berperan membuat transformasi sosial di beberapa negara, pada masyarakat serta kurun waktu tertentu. Karena sifatnya yang lentur, seni jalanan bisa dilakukan di mana saja, di perkampungan, di pusat kota bahkan sudut-sudut urban yang  kumuh. Salah satu proyek arsitektur dan mural yang sering dijadikan rujukan pengembangan wilayah ada di daerah slum di distrik Favela, Rio de Janeiro, Brazil[iii]. Seni jalanan juga mempunyai sifat yang komunikatif, mudah dicerna, dan dapat menyuarakan hal-hal serius secara ringan serta dapat dilakukan dengan menyenangkan bersama anak muda maupun warga juga menjadi pertimbangan untuk menjalankan praktik ini. Menurut salah satu kutipan dari seniman jalanan idola, Banksy, “grafitti adalah satu dari sedikit alat yang bisa dipakai ketika kamu tidak punya apa-apa, dan bahkan ketika kamu tidak mampu memproduksi karya yang mampu menyembuhkan kemiskinan dunia, paling tidak kamu sudah dapat membuat seseorang tersenyum ketika sedang buang air kecil”.

Hubungan romantis dan kekhawatiran ViaVia dan Purworejo

Pemilihan lokasi suatu proyek biasanya dilandasi oleh kepentingan tertentu dalam proyek tersebut, begitu juga proyek ini. Kenapa kami memilih Desa Bagelen dan Krendetan, yang berjarak 60 km-an dari Prawirotaman, Jogja?

Kami mengenal Bu Wury, salah satu penggagas dalam proyek ini bertahun-tahun lampau, jauh sebelum proyek ini dibicarakan. Kami sering bertemu ketika beliau melakukan kegiatan bersama lembaga non pemerintah tempatnya bekerja dulu. Hubungan baik ini terus berjalan sampai ketika beliau memutuskan pensiun dan kembali ke desa untuk mengembangkan tempat tersebut. Bu Wury mengkhawatirkan perubahan lingkungan, sosial dan kultural di tempat tinggalnya, seiring adanya pembangunan bandara internasional yang hanya berjarak 15 menit dari situ. Kota akan tumbuh dan menyedot sumber daya anak muda dari desa. Desa harus segera merespon perkembangan ini.

Gayung bersambut. Proyek seni untuk masyarakat ini akan kami lakukan di desa Krendetan dan Bagelen, Kecamatan Bagelen. Ada duapuluh seniman seni jalanan yang bersedia bergabung untuk mewarnai desa. Kami mempunyai harapan bahwa proyek seni ini akan berguna untuk desa dalam upayanya menjadi desa tujuan wisata, yang dengan demikian akan mengalihkan perhatian pengembang yang ingin menambang beberapa bukit pribadi di desa tersebut untuk diambil materialnya demi pembangunan bandara.

Jika pertanyaannya berikutnya adalah duluan mana telur dengan ayam? Duluan proyek atau lokasi yang ditentukan? Dalam konteks ini, keduanya berlangsung bersamaan, pemilihan lokasi muncul bersamaan dengan keputusan mengenai aktivitas seni yang mampu berinteraksi dengan warga, dengan luwes dan melepas sekat antara kota dan desa. Kami memutuskannya bersama.

Dan begitulah mengapa proyek ini bisa berjalan dan mengambil judul Kembali Ke Jalur. Kembali ke Jalur atau Back To Line merupakan salah satu narasi yang kami temukan, bahwa penyebutan Bagelen berasal dari kata “Back Line” yang berarti garis pertahanan. Sungai Bogowonto dulu merupakan garis pertahanan terakhir kerajaan Mataram pada masa Sultan Agung melawan Belanda.

Segala penjabaran di atas membuat kami memutuskan bahwa kami harus menjalankan proyek seni ini segera. Ada banyak yang bisa kami kerjakan di sana.  Bersama warga kami percaya bahwa proyek yang masih tertatih-tatih ini akan menemukan jalannya. Beberapa hal yang masih harus pelajari adalah konsep keberlanjutan dan kelestarian, terutama karena kami ingin kesenian yang dilakukan ViaVia tidak berhenti pada seni untuk masyarakat, namun juga agar tetap langgeng dan lestari.

Karina Roosvita

Bagelen Street Art Project 2018

Kembali ke Jalur Jogja – Purworejo

(Back to Line Jogja – Purworejo)


[i] Dewan Kesenian Jakarta, Proyek Seni Perempuan Wani Di Tata Project, Komite Seni Rupa – Dewan Kesenian Jakarta, 2015

[ii] Buku Pedoman Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Perguruan Tinggi di Indonesia, Direktorat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, DIRJEN DIKTI KEMENDIKNAS 2007.

[iii] Bambang Asrini Widjanarko, Kampoong Art Attack: Seni untuk Warga Kampung Besar Jakarta, https://regional.kompas.com/read/2018/02/13/09445141/kampoong-art-attack-seni-untuk-warga-kampung-besar-jakarta, diakses pada – 13/02/2018, 09:44 WIB

Previous

ViaVia Celebrates 30 Years of Stories, Journeys, and Community

Next

What’s happening in Jogja this November: Jogja Cultural Wellness, A Journey of Balance and Harmony

30's Years of ViaVia